Top Social

FIRA KAHAR

Ibu adalah sekolah utama, bila engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik.

PENYESALAN VIOLA Oleh Fira Kahar

Thursday, August 30, 2018



        Linangan air mata tidak bisa terbendung ketika menyaksikan Pak Anggara berdiri lunglai di balik jeruji besi itu. Baru dua hari terdengar kabar bapak ini bermalam di rumah berpintu jeruji besi itu. Tetapi seperti sudah bertahun lamanya, hanya dengan menggunakan baju kaos dan celana pendek saja, terlihat matanya cekung, rambut yang mulai panjang terlihat kusut tak beraturan, kumis dan jenggot mulai bermunculan, kuku tangan dan kaki panjang yang hitam tak terurus. Tak tega Aku melihat kondisi ini. Kurogoh saku bajuku. Kutemukan kontak motorku yang memiliki mainan pemotong kuku.
“Potong kuku dulu, Pak!” pintaku sambil memberikan mainan kontak motorku di selah-selah jeruji besi.
“oh iya terima kasih” sahut Pak Anggara sambil mengambil nya dari tanganku, kulihat Dia memotong kuku, tangannya gemetar seakan-akan ada beban yang begitu berat yang ada di pundaknya saat ini. Kulihat mata Bapak yang cekung itu sedikit berlinang walau tak ada yang tumpah...belum lagi wajahnya yang mulai menua terlihat pucat tak bergairah. “sudah” ucap nya sambil mengembalikan gunting kuku pada ku.
“Kakinya belum pak” komentarku sambil menunjuk kebawah ke arah kaki beliau yang kukunya panjang dan sudah menghitam, Beliau pun tersenyum walau terkesan dipaksa sambil mencari tempat duduk untuk memotong kuku kakinya. Kemana gagahnya Pak Anggara selama ini?. kemana kekuasaan Pak Anggara selama ini?.
Baru kemarin melihat Pak Anggara begitu gagah dengan perawakan tinggi dengan postur tubuh yang ideal menggunakan pakaian seragam warna krem berdiri tegap di tengah lapangan sekolah sebagai pembina upacara bendera di sekolahku. Hari ini kondisinya berubah seratus delapan puluh derajat. Masih berasa mimpi, sekejap saja kejadian hari itu merubah nasib seseorang. Dari seorang pemimpin menjadi seorang tersangka, dari seorang terhormat menjadi terbengkalai, dari seorang yang gagah dan penuh semangat menjadi orang yang tak bergairah, dari berkuasa menjadi tak berdaya.
            Teeet...teeet....spontan suara klakson mengejutkan aku dari ingatanku tentang kondisi Pak Anggara yang barusan kami kunjungi.
”Astaghfirullahal’azim....Alize, itukan Alize dan Dine”, Alize dan Dine hanya tersenyum seakan tidak terjadi apa-apa, merekapun meluncur melanjutkan perjalanan. hampir saja mobil Fortune yang membawa Aku dan kawan-kaan menabrak honda Specy yang sedang dikendarai Alize yang tiba-tiba melesat kencang memotong mobil Fortuner. Kami semua benar-benar terkejut dan secara spontan secara koor beristighfar kepada Allah. Tidak terbayangkan rasanya jika kecelakaan terjadi mobil guru menabrak motor muridnya sendiri. Bisa jadi fokus dan memviral berita tentang sekolahku, belum selesai masalah satu sudah muncul masalah baru lainnya.
            Kurang lebih 30 menit kami menelusuri jalan dari kantor Polresta Bengkulu menuju Betungan rumah Viola salah seorang guru di sekolahku. Selama di perjalanan semua diam, hening, membisu. Sebanyak enam orang, aku dan teman-teman sesama mengajar di satu sekolah dengan menggunakan kendaraan mobil Fortuner ibu Hj.Andini. Semua masih terbawa ke alam emosi yang sama yakni rasa kecewa, rasa sedih bercampur haru yang mendalam dengan  kondisi yang dialami Pak  Anggara di balik jeruji besi itu. Ya Allah kapankah semua ini berakhir? Bathinku sambil mendesah menarik nafas yang panjang.
Tanpa disadari Aku dan kawan-kawan sudah berada depan rumah Viola, di sana sudah terlihat ada beberapa muridku, teman-teman sesama guru dan sebagian perwakilan komite  wali murid sekolah tempatku mengajar. “Ingat ya misi kita kemari tiada lain ingin menyampaikan satu kata “damai”, kata seorang temanku kembali mengingatkan agar semua bisa menjaga lisan masing-masing jangan sampai ada yang terpancing dan terbawa emosi yang akan memperkeruh suasana yang tidak baik.
Di ruang tengah rumah kutemukan Viola sedang duduk berselonjor dengan beralaskan kasur yang mulai menipis, bersandar pada dua bantal di punggung sebagai penyanggah pinggang Viola yang masih terasa sakit.Raut wajahnya masih memperlihatkan rasa duka yang mendalam. Mata sebelah kiri Viola masih membiru, kuperhatikan sesekali masih terlihat ekspresi meringis diwajahnya ketika matanya mau bergerak dan berinteraksi ke kiri. Belum lagi bathin Viola yang gelisah dan berkecamuk dengan musibah yang menimpanya. Traumatik terjadi pada dirinya, tanpa disadari kadang air mata mengalir deras tak terbendung, kadang viola berteriak kencang mengejutkan seisi rumah. Betapa galaunya hati Viola di satu sisi dia tidak menerima sudah dianiaya oleh Pak Anggara. Disatu sisi Viola sedih dan terharu membayangkan Pak Anggara meringkuk kedinginan di balik jeruji besi itu.
“Maafkan aku Pak Anggara....” bathin Viola berbisik dan menelisik kegalauannya.
Satu persatu kami menyalami dan memberikan do’a kesehatan untuk Viola. Kondisi yang beda dari biasanya, rame tapi hening, yang terdengar hanya suara kunyahan masing-masing orang yang berada di ruangan tengah rumah Viola. Semua pada menikmati makan buah duku yang manis sekali yang disuguhkan oleh maknya Viola dari daerah Lampung. Terdengar dialog dari ketua komite dengan Viola, sekali-kali di sela oleh Ibu Plt. Kepala Sekolah tempat kami mengajar. Sempat terdengar olehku bahwa semuanya sangat menginginkan Viola cepat sehat baik sehat secara fisik maupun secara psikisnya, Sekolah masih sangat mengharapkan kehadiran Viola, baik dari rekan sesama guru maupun semua siswa-siswi di sekolah. Terakhir pesan dan harapan bersama semoga masalah Viola dan pak Anggara dapat diselesaikan secara kekeluargaan atau secara damai saja, karena kita adalah satu keluarga yang sedang berselisih, namanya kita satu keluarga berselisih satu sama lain adalah hal yang biasa, asalkan endingnya saling memaafkan satu sama lain.
“Semua ini keputusannya ada sama kamu Vio, bukannya kami tidak marah akan kelakuannya padamu, tapi damai adalah sikap yang terbaik untuk kedua belah pihak. Baik untuk dirimu dan baik juga untuk Pak Anggara”.
Viola bungkam seribu bahasa, dengan mata sayu, mulut terkunci, ketika mendengar kata damai dari Ibu Hj.Andini sebagai orang yang dituakan di sekolah kami
`           Begitu dalam derita yang dirasakan oleh Viola sejak kejadian yang menimpa dirinya. Mata sebelah kirinya masih sangat jelas berbekas. Begitu keras pukulan pak Anggara siang itu. Di saat kejadian, aku sedang berbicara dengan dua orang wali murid kelasku di depan ruang kepala sekolah, tiba-tiba braaakkk....terdengar samar olehku, tapi jelas suara benturan terjadi, spontan suasana sekolah jadi gaduh, riuh berlarian menuju ruang guru, kulihat Pak Anggara berjalan dari depan ruang guru menuju ruang TU, mukanya kusut, mata memerah, sambil mengoceh, ntah apa yang di ocehkannya tidak jelas.
Tersirat Amarah membara di wajahnya. Sempat kutanya,
“Ada apa Pak?” walau tak dijawabnya, aku pun berlari ke tempat ke gaduhan terjadi di depan ruang guru. Disana kutemukan Viola yang bergejolak sedang di tenangkan oleh guru yang lainnya.
“Anggaraaaa....aku tidak terima di perlakukan seperti ini”. Teriak Viola. Semua mengerumuni Viola aku pun belum sempat melihat apa sebenarnya yang terjadi dengan Viola, ku tanya kesana kemari, taunya semua sama denganku belum tau kejadian yang sebenarnya.  
Terlihat olehku Pak Anggara berjalan kembali menuju ruang guru, mukanya mulai tenang. Sepertinya dia sudah menyadari bahwa apa yang dilakukannya adalah salah dan merasa mulai menyesali diri yang tersulut emosi dan amarah. Entahlah apa yang membuat Anggara begitu marah sehingga tinjunya mendarat di pinggir mata sebelah kiri Viola. Akhirnya kutemukan Viola dengan mata sebelah kiri memerah dan mulai membengkak. Aku pun merinding melihatnya...
Astaghfirullahal’aziim” kenapa bisa seperti ini Vio?” kupeluk Viola. Aku tak sanggup melihat mukanya.
“Tidak usah nangis Selly, Ini gara – gara Faras! Teriak Viola. Mendengar nama Faras disebut-sebut Viola, menambah kebingunganku akan semua ini. Yang di tinju Viola, yang meninju Anggara , kenapa Faras yang salah yaa?.  Sepertinya ada masalah antara Viola sebagai guru yang sedang membimbing siswa, dengan Anggara kepala sekolah, serta Faras sebagai bendahara di sekolahanku.
Viola yang masih bergejolak tidak terima empati dari Anggara. Maksud Anggara mau minta maaf ke Viola dan mau mengajak Viola berobat. Melihat wajah Anggara masuk ruang guru, serta merta Viola lepas kontrol dan berdiri menghardik Anggara. Akhirnya Anggara di bawa keluar oleh salah seorang guru laki-laki.
“Sudahlah pak, sepertinya kondisi belum terkendali. Sebaiknya bapak pergilah dulu dan keluar dulu dari lingkungan sekolah ini”. Pintanya.
Anggarapun berlalu dan pergi meninggalkan sekolah, entah kemana. Tak berselang lama Violapun pergi meninggalkan sekolah. Entah apa yang menggerakkan kaki Viola, dia pergi ke rumah sakit melakukan visum ke RSUD M.Yunus Bengkulu. hasil visum pun dibawanya ke salah satu Polsek di kota Bengkulu dengan judul laporan Penganiayaan Anggara atas dirinya. Siang itu juga sekolah kami banyak didatangi orang-orang media maupun para jajaran pemerintahan. Santer sudah sekolah kami jadi fokus berita di semua media, baik media lokal maupun media nasional. TV lokal hampir tiap hari tiap malam memberitakan kasus ini. Desakan, tekanan dari beberapa kalangan menerpa Anggara, akhirnya Anggara pun dinonaktifkan dari jabatan kepala sekolah, sekolah kamipun dipimpin oleh seorang Ibu Plt. kepala sekolah dari Diknas Kota Bengkulu. Berselang beberapa hari kemudian sampai juga ke telingaku bahwa Anggara sudah di ruang berjeruji besi itu.
Tersentak sudah semua penghuni sekolah mendengar Anggara dua malam ini sudah tidur di ruangan berjeruji besi. Kenapa harus berakhir seperti ini? Kemana hati nurani kita sebagai teman seperjuangan, sebagai satu naungan keluarga PGRI, sebagai murid terhadap guru. Kemana kata perdamaian yang selama ini yang kita ajarkan dan kita tawarkan ke anak didik kita. Rasa simpatik mulai bermunculan untuk Anggara. Apalagi terdengar viola mau melanjutkan masalah ini ke meja hijau. Tidak disangka Viola akan tega melakukan ini...
Beberapa kali dilakukan mediasi dari dinas pemerintahan dan dari pihak keluarga terdekat agar kasus ini dapat diselesaikan dengan damai dan kekeluargaan saja. Karena sangatlah butuh energi, waktu dan materi kalaulah kasus ini sampai ke meja hijau. Apalagi kondisi kesehatan Anggara hari demi hari semakin melemah. Kasus ini benar-benar kekhilapan dirinya yang tidak terkira akan berakhir seperti ini. Anggara sadar bahwa semua ini sudah takdir dari Allah SWT. Tapi tetap saja kejadian ini membuat dirinya labil. Dalam sekejap dirinya menjadi tenar sebagai seorang penganiaya, dalam sekejap jabatan kepala sekolah nya dinonaktifkan, dalam sekejap dirinya sudah di ruangan pengap dan sempit. Ini semua membuat Anggara drop baik fisik maupun mentalnya.
Seperti biasa kegiatan silaturahim siang ini ditutup do’a bersama. Inti dari do’a Aku dan kawan-kawan adalah agar kiranya musibah yang menimpa sekolahku dapat terselesai dengan baik sehingga Pak Anggara dan Ibu Viola dapat saling memaafkan satu sama lain dan bisa mengintropeksi kesalahan masing-masing, kenapa musibah ini sampai terjadi. Harapan terakhir bagaimana masalah ini cukup diselesaikan di meja biasa jangan sampai ke meja hijau.
Akhirnya tibalah saatnya kami berpamitan ke Viola dan keluarga. Semua sudah angkat bicara. Dimulai dari perwakilan komite atau orang tua murid, dari perwakilan siswa, dan terakhir dari Plt. kepala sekolah semua satu kata yakni “Damai”, mari kita berdamai. Sampai detik ini belum ada angin segar berhembus dari Viola. Sedangkan di luar sana terlihat langit sudah keberatan menahan mendung yang sebentar lagi akan tumpah ke bumi. Hari mulai gelap seperti mau malam, padahal jam masih menunjukan pukul 15.00 Wib. Petir dan guruh mulai bersahutan.
Tiba-Tiba handpone ibu kepala sekolah berdering, mengalihkan semua perhatian kami yang sedang berpamitan bersalaman dengan Viola dan keluarganya.tidak tau siapa yang sedang menelpon, terdengar oleh kami ibu PLT kepala sekolah berucap “Innalillahiwainnailaihirojiun...” Sontak semua mata kami mengarah ke beliau, tidak sabar rasanya menunggu ibu selesai berbicara di handpone. Ibu pun berjalan menuju Viola sambil berurai air mata ibu mengatakan sesuatu ke Viola: Tidak ada lagi yang mesti kita damaikan...Pak Anggara sudah pergi Vio, selamanya...
Sambil bercucuran air mata, terseok-seok viola melangkah menuju batu nisan yang bertuliskan “Anggara” penyesalan panjang yang dirasakan Viola tak kunjung berakhir. Pak Anggara adalah salah seorang guru mata pelajaran yang sangat di sukai Viola di saat berseragam biru putih. Sampai akhirnya Viola juga menjadi guru dan menjadi mitra kerja Pak Anggara. Sejak berita kepergian Anggara hari itu, Viola seperti tersambar petir. Sontak dia tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Kejadian ini sangat cepat prosesnya. Violapun tak bisa lagi menemui Anggara, malu bercampur sesal mendalam yang dirasakan Viola sehingga Viola tidak punya keberanian untuk datang kerumah duka.
“Ah! Sungguh keras hatiku selama ini! Sungguh tak tau dirinya aku selama ini!
 Apa yang harus aku lakukan ya Allah. Aku ingin kembali pada jalan-Mu...Akankah aku bisa menebus kesalahanku selama ini?
Sejak kejadian itu Viola sangat pemaaf dan penolong. Hidupnya sungguh terarah menjadi seorang guru yang sholehah, panutan semua murid-muridnya.
                                                                       Bengkulu,  30 Agustus 2018

Entah kenapa kali ini lagi ingin berbagi mengukir kehidupan lewat cerpen yaa....
semoga yang baca suka dan bermanfaat dech.


#30DWC
#30DWCJILID14
#DAY9

Post Comment
Post a Comment

Auto Post Signature

Auto Post  Signature